Asal Mula Muharrom menjadi Hari Raya Anak Yatim

SEORANG PEDAGANG KURMA YANG
MENYANTUNI ANAK YATIM

ﻭَﺣُﻜِﻲَ ﺃَﻧَّﻪُ ﻛَﺎﻥَ ﺑِﻤِﺼْﺮَ ﺭَﺟُﻞٌ ﺗَﺎﺟِﺮٌ ﻓِﻲ ﺍﻟﺘَّﻤْﺮِ ﻳُﻘَﺎﻝُ ﻟَﻪُ
ﻋَﻄِﻴَّﺔُ ﺑْﻦُ ﺧَﻠْﻒٍ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻣِﻦْ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟﺜَّﺮْﻭَﺓِ، ﺛُﻢَّ ﺍﻓْﺘَﻘَﺮَ، ﻭَﻟَﻢْ
ﻳَﺒْﻖَ ﻟَﻪُ ﺳِﻮَﻯ ﺛَﻮْﺏٍ ﻳَﺴْﺘُﺮُ ﻋَﻮْﺭَﺗَﻪُ ،

Diceritakan bahwa di Mesir ada seorang laki-laki
pedagang kurma, namanya Athiyah bin Kholaf, Dia termasuk orang yang kaya raya. Oleh karena suatu hal dia menjadi miskin. Dia tidak punya apa-apa kecuali pakaian yang melekat di badan untuk menutupi auratnya

ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﻛَﺎﻥَ ﻳَﻮْﻡُ ﻋَﺎﺷُﻮْﺭَﺍﺀَ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﺼُّﺒْﺢَ ﻓِﻲْ ﺟَﺎﻣِﻊِ ﻋَﻤْﺮِﻭ ﺑْﻦِ
ﺍﻟْﻌَﺎﺹِ، ﻭَﻣِﻦْ ﻋَﺎﺩَﺓِ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﺠَﺎﻣِﻊِ ﻟَﺎ ﻳَﺪْﺧُﻠُﻪُ ﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀُ ﺇِﻟَّﺎ ﻓِﻲْ
ﻳَﻮْﻡِ ﻋَﺎﺷُﻮْﺭَﺍﺀَ ﻟِﺄَﺟْﻞِ ﺍﻟﺪُّﻋَﺎﺀِ

Ketika hari Asyura datang, ia melakukan shalat
shubuh di Masjid Amru bin Ash. Kebiasaan yang
berlaku di masjid itu pada hari biasa adalah
tidak diperkenankannya para wanita masuk
masjid tersebut kecuali pada hari Asyura saja,
untuk tujuan berdoa.

ﻓَﻮَﻗَﻒَ ﻳَﺪْﻋُﻮْ ﻣَﻊَ ﺟُﻤْﻠَﺔِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ، ﻭَﻫُﻮَ ﺑِﻤَﻌْﺰِﻝٍ ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀِ
ﺟَﺎﺀَﺗﻪُ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓٌ ﻭَﻣَﻌَﻬَﺎ ﺃَﻃْﻔَﺎﻝٌ

Di masjid itu, ‘Athiyah bin Kholaf berdoa bersama orang banyak. Dia terpisah dari para wanita, tiba-tiba datang kepadanya seorang wanita bersama anak-anak kecil.

ﻓَﻘَﺎﻟَﺖْ ﻳَﺎ ﺳَﻴِّﺪِﻱْ : ﺳَﺄَﻟْﺘُﻚَ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﺎ ﻓَﺮَّﺟْﺖَ ﻋَﻨِّﻲْ
ﻭَﺁﺛَﺮْﺗَﻨِﻲْ ﺑِﺸَﻲْﺀٍ ﺃَﺳْﺘَﻌِﻴْﻦُ ﺑِﻪِ ﻋَﻠَﻰ ﻗُﻮْﺕِ ﻫَﺬِﻩِ ﺍﻟْﺄَﻃْﻔَﺎﻝِ،
ﻓَﻘَﺪْ ﻣَﺎﺕَ ﺃَﺑُﻮْﻫُﻢْ ﻭَﻣَﺎ ﺗَﺮَﻙَ ﻟَﻬُﻢْ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻭَﺃَﻧَﺎ ﺷَﺮِﻳْﻔَﺔٌ، ﻭَﻟَﺎ
ﺃَﻋْﺮِﻑُ ﺃَﺣَﺪًﺍ ﺃَﻗْﺼِﺪُﻩُ، ﻭَﻣَﺎ ﺧَﺮَﺟْﺖُ ﻓِﻲْ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﻴَﻮْﻡِ ﺇِﻟَّﺎ ﻋَﻦْ
ﺿَﺮُﻭْﺭَﺓٍ ﺃَﺣْﻮَﺟَﺘْﻨِﻲْ ﺇِﻟَﻰ ﺑَﺬْﻝِ ﻭَﺟْﻬِﻲْ، ﻭَﻟَﻴْﺲَ ﻟِﻲْ ﻋَﺎﺩَﺓً
ﺑِﺬَﻟِﻚَ.

Wanita itu berkata:
“Wahai tuan, Aku minta kepada anda, Demi
Allah, semoga tuan bisa meringankan kesulitanku dan sudi memberi sesuatu yang aku gunakan untuk bisa memenuhi kebutuhan makan anak-anak ini. Sementara bapak mereka telah wafat. Dia tidak meninggalkan satu apapun untuk mereka. Aku adalah Syarifah. Aku tidak tahu siapa yang aku tuju. Aku tidak keluar kecuali hari ini, itupun dengan darurat yang menjadikan aku hajat untuk
mengorbankan diriku. Dan itu bukan merupakan
kebiasanku.

ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻓِﻲْ ﻧَﻔْﺴِﻪِ: ﺃَﻧَﺎ ﻣَﺎ ﺃَﻣْﻠِﻚُ ﺷَﻴْﺌًﺎ، ﻭَﻟَﻴْﺲَ ﻟِﻲْ ﻏَﻴْﺮُ
ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟﺜَّﻮْﺏِ، ﻭَﺇِﻥْ ﺧَﻠَﻌْﺘُﻪُ ﺍِﻧْﻜَﺸَﻔَﺖْ ﻋَﻮْﺭَﺗِﻲْ، ﻭَﺇِﻥْ ﺭَﺩَﺩْﺗُﻬَﺎ
ﻓَﺄَﻱُّ ﻋُﺬْﺭٍ ﻟِﻲْ ﻋِﻨْﺪَ ﺭَﺳُﻮْﻝِ ﺍﻟﻠﻪِ

‘Athiyahpun berkata dalam hatinya:
“Aku tidak mempunyai sesuatu. Tidak ada
milikku keculai baju ini. Jika aku lepas akan
terbukalah tubuhku. Jika wanita ini aku tolak,
alasan apakah yang akan aku kemukakan pada
Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wasallam-
ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻟَﻬَﺎ: ﺍِﺫْﻫَﺒِﻲْ ﻣَﻌِﻲْ ﺣَﺘَّﻰ ﺃُﻋْﻄِﻴَﻚَ ﺷَﻴْﺌًﺎ
Akhirnya ‘Athiyah berkata kepada wanita
tersebut:
“Mari ke rumahku. Aku akan memberimu sesuatu.”

ﻓَﺬَﻫَﺒَﺖْ ﻣَﻌَﻪُ ﺇِﻟَﻰ ﻣَﻨْﺰِﻟِﻪِ، ﻓَﺄَﻭْﻗَﻔَﻬَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺒَﺎﺏِ ﻭَﺩَﺧَﻞَ ﻭَﺧَﻠَﻊَ
ﺛَﻮْﺑَﻪُ، ﻭَﺍﺗَّﺰَﺭَ ﺑِﺨَﻠِﻖٍ ﻛَﺎﻥَ ﻋِﻨْﺪَﻩُ، ﺛُﻢَّ ﻧَﺎﻭَﻟَﻬَﺎ ﺍﻟﺜَّﻮْﺏَ ﻣِﻦْ ﺷِﻖِّ
ﺍﻟْﺒَﺎﺏِ .

Maka wanita itu pun mengikuti ‘Athiyah sampai
di rumahnya. Lalu ‘Athiyah menempatkannya didepan pintu rumahnya. Athiyah pun masuk kerumah dan mencopot bajunya. Dia mengenakan sarung lusuh yang ia punya. Diberikanlah baju yang ia copot tadi kepada wanita dari sisi pintunya.

ﻓَﻘَﺎﻟَﺖْ ﻟَﻪُ: ﺃَﻟْﺒَﺴَﻚَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻣِﻦْ ﺣُﻠَﻞِ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻭَﻟَﺎ ﺃَﺣْﻮَﺟَﻚَ ﻓِﻲْ
ﺑَﺎﻗِﻲْ ﻋُﻤْﺮِﻙَ ﺇِﻟَﻰ ﺃَﺣَﺪٍ
Lalu ia mendoakan ‘Athiyah:
“Semoga Allah memberikan pada tuan pakaian-
pakaian surga dan tuan tidak akan membutuhkan kepada orang lain selama hidup tuan.”
ﻓَﻔَﺮِﺡَ ﺑِﺪُﻋَﺎﺋِﻬَﺎ ﻭَﺃَﻏْﻠَﻖَ ﺍﻟْﺒَﺎﺏَ، ﻭَﺩَﺧَﻞَ ﺑَﻴْﺘَﻪُ ﻳَﺬْﻛُﺮُ ﺍﻟﻠﻪَ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ
ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻠَّﻴْﻞِ ،

‘Athiyah merasa senang dengan do’a wanita
tersebut. Iapun menutup pintunya, masuk
kerumahnya. Ia berdzikir hingga larut malam

ﺛُﻢَّ ﻧَﺎﻡَ ﻓَﺮَﺃَﻯ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻤَﻨَﺎﻡِ ﺣَﻮْﺭَﺍﺀَ ﻟَﻢْ ﻳَﺮَ ﺍﻟﺮَّﺍﺅُﻭْﻥَ ﺃَﺣْﺴَﻦَ
ﻣِﻨﻬَﺎ، ﻭَﺑِﻴَﺪِﻫَﺎ ﺗُﻔَّﺎﺣَﺔٌ ﻗَﺪْ ﻋَﻄَّﺮَﺕْ ﻣَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ ﻭَﺍﻟْﺄَﺭْﺽِ،
ﻓَﻨَﺎﻭَﻟَﺘْﻪُ ﺍﻟﺘُّﻔَّﺎﺣَﺔَ ﻓَﻜَﺴَﺮَﻫَﺎ، ﻓَﺨَﺮَﺝَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺣُﻠَّﺔٌ ﻣِﻦْ ﺣُﻠَﻞِ
ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻟَﺎ ﺗُﺴَﺎﻭِﻳْﻬَﺎ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﻣَﺎ ﻓِﻴْﻬَﺎ، ﻓَﺄَﻟْﺒَﺴَﺘْﻪُ ﺍﻟْﺤُﻠَّﺔَ
ﻭَﺟَﻠَﺴَﺖْ ﻓِﻲْ ﺣِﺠْﺮِﻩِ .

Kemudian Athiyah tidur. Ketika tidur, ia bermimpi melihat bidadari, belum pernah orang melihat wanita lebih cantik darinya. Di tangan wanita itu ada buah apel yang mengharumkan antara langit dan bumi. Buah apel tersebut dberikannya kepada Athiyah ketika buah apel itu dibelah, dari belahan apel itu keluar pakaian dari pakian surga yang tidak terbanding dengan di dunia sesisinya
Pakaian itu dikenakannya pada ‘Athiyah bin
Kholaf. Setelah pakaian itu dikenakan, bidadari
itu duduk di pangkuannya.

ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻟَﻬَﺎ: ﻣَﻦْ ﺃَﻧْﺖِ؟ ﻓَﻘَﺎﻟَﺖْ: ﺃَﻧَﺎ ﻋَﺎﺷُﻮْﺭَﺍﺀُ ﺯَﻭْﺟَﺘُﻚَ ﻓِﻲ
ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ. ﻗَﺎﻝَ: ﻓَﺒِﻢَ ﻧِﻠْﺖُ ﺫَﻟِﻚَ؟ ﻓَﻘَﺎﻟَﺖْ : ﺑِﺪَﻋْﻮَﺓِ ﺗِﻠْﻚَ
ﺍﻟْﻤِﺴْﻜِﻴْﻨَﺔِ ﺍﻟْﺄَﺭْﻣَﻠَﺔِ ﻭَﺍﻟْﺄَﻳْﺘﺎﻡِ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺃَﺣْﺴَﻨْﺖَ ﺇِﻟَﻴْﻬِﻢْ ﺑِﺎﻟْﺄَﻣْﺲِ ،

‘Athiyah lantas bertanya:
“Siapakah kamu ini?” “Aku adalah ‘Asyura, istrimu di surga,” jawab bidadari itu. “Dengan amal apakah aku memperoleh kemuliaan seperti ini?” tanya ‘Athiyah. Lalu bidadari itu menjawab:
“Dengan seorang janda miskin, dan anak-anak
yatim yang kemarin engkau berbuat baik kepada
mereka.”

ﻓَﺎﻧْﺘَﺒَﻪَ ﻭَﻋِﻨْﺪَﻩُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴُّﺮُﻭْﺭِ ﻣَﺎ ﻟَﺎ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻪُ ﺇِﻟَّﺎ ﺍﻟﻠﻪُ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ، ﻭَﻗَﺪْ
ﻋَﺒِﻖَ ﻣِﻦْ ﻃِﻴْﺒِﻪِ ﺍﻟْﻤَﻜَﺎﻥُ ،

Maka Athiyah terbangun, dan dia sangat senang
yang tidak mengetahuinya kecuali Allah Ta’ala,
sementara tempat dimana ia berada semerbak
dari bau wanginya

ﻓَﺘَﻮَﺿَّﺄَ ﻭَﺻَﻠَّﻰ ﺭَﻛْﻌَﺘَﻴْﻦِ ﺷُﻜْﺮًﺍ ﻟﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ،

Kemudian ia mengambil air wudhu, dan iapun
melaksanakan shalat dua rakaat sebagai tanda
rasa syukurnya kepada Allah Ta’ala

ﺛُﻢَّ ﺭَﻓَﻊَ ﻃَﺮْﻓَﻪُ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺴَّﻤَﺎﺀِ ﻓَﻘَﺎﻝَ: ﺇِﻟَﻬِﻲْ ﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻣَﻨَﺎﻣِﻲْ
ﺣَﻘًّﺎ، ﻭَﻫَﺬِﻩِ ﺯَﻭْﺟَﺘِﻲْ ﻓِﻲ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﻓَﺎﻗْﺒِﻀْﻨِﻲْ ﺇِﻟَﻴْﻚَ

Kemudian Athiyah mengangkat pandangannya
ke langit seraya berdoa:
“Wahai Tuhanku. Apabila mimpi dalam tidurku
itu benar dan bidadari dalam mimpiku itu
adalah istriku di surga, maka matikanlah aku
saat ini juga untuk bertemu dengan-Mu.”

ﻓَﻤَﺎ ﺍﺳْﺘَﺘَﻢَّ ﺍﻟْﻜَﻠَﺎﻡَ ﺣَﺘَّﻰ ﻋَﺠَّﻞَ ﺍﻟﻠﻪُ ﺑِﺮُﻭْﺣِﻪِ ﺇِﻟَﻰ ﺩَﺍﺭِ ﺍﻟﺴَّﻠَﺎﻡِ .

Belum usai doa dipanjatkan, Allah menyegerakan ruh Athiyah ke surga Daarussalaam
wallohu a’lam.

dari grup FB PISS KTB
oleh KH. Abdullah Afif (alm.)

Sumber Kitab:
Irsyadul Ibad halaman 150

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *